Sekolah Tatap Muka Sedang Dirindu Anak-Anak Indonesia

Covid-19, Pendidikan819 kali dilihat

KARAWANG CENTER – Tidak terasa, tahun ini anak-anak masih bersekolah melalui gawai. Ya, sebuah alat yang dulu dijauhkan dari anak, kini malah sengaja didekatkan dengan anak.

Dulu gawai hanyalah sebatas alat komunikasi, tapi kini menjadi perlengkapan belajar yang wajib ada. Dulu anak-anak belajar dengan datang ke sekolah dan dilarang membawa gawai, sekarang anak-anak tidak boleh datang ke sekolah dan diwajibkan menggunakan gawai. Keadaan berubah.

Bank BJB KPR

Alhasil, sekolah yang dulu ramai anak-anak hilir mudik kinipun berubah sepi. Tak terlihat lagi wajah-wajah mereka yang jajan di kantin tiap istirahat, tak terlihat lagi aktifitas olah raga di lapangan olahraga, tak terlihat lagi anak-anak latihan paduan suara, tak ada lagi anak-anak latihan baris-berbaris, dan tak pernah ada lagi canda tawa mereka di sekolah.

Baca Juga :  Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Karawang menggelar Lomba Bercerita Tingkat SD/MI Se-Kabupaten

Banyak yang rindu sekolah tatap muka. Bayangkan saja, hampir satu semester ada siswa baru yang tidak mengenal guru dan teman-teman sekelasnya sendiri, ada anak yang susah mengerti apa yang dipelajari, ada anak yang mulai jenuh, ada anak yang pusing dengan tugas-tugas rumah, ada anak yang mulai tidak ikut belajar, ada orang tua yang mulai tidak isi kuota anaknya, dan ada saja permasalahan selama belajar daring ini.

Rata-rata kalau masalahnya di ekonomi, tidak memiliki gawai. Sedangkan yang lain, giliran memiliki gawai tidak ada uang untuk membeli kuota. Selain itu, ada juga yang memiliki gawai dan kuota tapi terkendala jaringan. Masalah kembali muncul jika ada anak yang gawainya rusak atau wifi di rumah mati.

Baca Juga :  Sidak Prokes di Tempat Wisata, Kebanyakan Mobil Bernopol B

Complicated!

Saya sendiri rindu sekolah tatap muka. Menurut saya ada beberapa hal yang menyebabkan sekolah diusahakan untuk tatap muka, diantaranya :

  1. Tidak semua keluarga memiliki gawai untuk belajar daring
  2. Waktu pemakaian gawai pada anak menjadi berlebihan
  3. Anak menjadi lebih suka bermain gawai daripada bermain dengan teman
  4. Materi pelajaran sulit dipahami
  5. Guru sulit menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak
  6. Sulit mengontrol anak ketika belajar dengan gawai
  7. Tidak semua wilayah memiliki jangkauan jaringan seluler yang baik
Baca Juga :  Acara Penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perizinan Kerjasama antara Bank BJB Dengan Unsika

Selain beberapa hal di atas, banyak sekali siswa-siswi yang selalu menanyakan: kapan belajar di sekolah? Bahkan, di beberapa sekolah sudah mengadakan survey terhadap orang tua siswa perihal sekolah tatap muka ini. Hasilnya, sebagian besar lebih memilih sekolah tatap muka daripada belajar secara daring.

Beberapa diantara mereka yang keberatan dengan sekolah tatap muka, karena mereka masih khawatir dengan pandemi yang tak kunjung berakhir.

Sekolah tatap muka, sedang dirindu anak-anak Indonesia.

(Riswanto S.Pd.I, / FB : Riswanto Unsika)

Artikel Terkait

Jangan ketinggalan berita ini!

Tinggalkan Balasan