Karawang Hijrah – Episode 1 : Mengenal Allah SWT

Karawang Hijrah, Religi659 kali dilihat

Apakah masih perlu berbicara tentang Allah swt?

Bukankah kita sudah sering mendengar dan menyebut asma-Nya. Bahkan kita pun sudah tahu bahwa Allah swt adalah Tuhan kita; yang menciptakan semua makhluk; dan Dia adalah Tuhan seluruh alam.

Apakah itu tidak cukup?

Ketahuilah, bahwa perasaan merasa sudah cukup itulah yang mampu menghalangi kita. Mengahalangi kita dari ilmu, mengahalangi untuk menambah wawasan pemahaman dan pengenalan kita terhadap Allah swt. Menghalangi dari CahayaNya.

Bank BJB KPR

Sehingga belajar dalam mengenali itu menjadi keharusan. Sesungguhnya semakin dalam dan sering kita memahami untuk mengenal Allah swt maka kita akan semakin merasa dekat dengan-Nya. Semakin dekat perasaan kita kepada Allah swt, semakin tenang jiwa kita.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ – 13:28

Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Ar Ra’du (13) : 28 yang artinya “orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah swt. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah swt hati menjadi tentram.”

Manusia memiliki sifat-sifat yang menjadi penghalang dalam mengenal Allah swt. Sifat ini muncul dari syahwat yang bersarang dalam diri. Sifat yang harus di buang dan dihilangkan sebaik mungkin dalam diri kita. Seperti menyekutukan Allah swt, fasiq, sombong, dzolim, dusta, banyak maksiat. Nah hal-hal itulah yang mampu menghalangi manusia dalam mengenal Allah swt.

Sejarah Islam mengabarkan Nabi Ibrahim as dalam mengenali penciptanya. Ketika nabi Ibrahim mencari siapa yang seharusnya dia sembah, siapa tuhanya, dengan proses dan pergulatan dalam jiwa dan akalnya sendiri dan itu memerlukan waktu. Memerlukan kejernihan dalam berpikir. Berpikir dan membaca apa-apa yang ada disekelilingnya. Sehingga muara dalam proses pencarianya Nabi Ibrahim as. adalah proses bertafakur mencari untuk mengenali Allah swt.

Lantas bagaimanakah ikhtiar kita dalam mengenali Allah swt?

Pertama

Rasa menerima kelemahan. Manusia kadang memiliki perasaan bahwa dirinya lebih baik, lebih hebat bahkan lebih mulia. Padahal tidak sama sekali jika urusanya dengan Tuhan. Manusia tetap lemah dan tak berdaya. Maka timbulkanlah penerimaan akan diri kita ini lemah dan tiada daya

Kedua

Dengan ilmu. Kita harus terus belajar; belajar membaca Al Quran belajar ilmu-ilmu agama dan bahkan ilmua-ilmu lainya yang tidak bertentangan dengan syariat islam. Sebab dengan ilmu di dalam Al Quranlah kita mampu mengena Allah swt.

Ketiga

Perlu adanya guru dalam membimbing kita. Seorang guru yang mengajak dalam kemurnian tauhid menuju Allah swt. Sebab dari guru-guru yang sholih mampu menjadi jalan ikhtiar kita lebih mengenal Allah swt.

Keempat

Perbanyak berdzikir kepada Allah swt dan menjaga makanan dan minuman yang dimakan dari keharaman.

Kelima

Bertapakur. Berpikir dengan kejernihan hati dan pikiran.

Perlu ikhtiar dan doa dalam mengnal Allah swt. Setiap doa dan ikhtiar kita dalam mengenalNya. Insyaallah menjadi nilai kebaikan di dunia dan akhirat. (Ahmad Ruslani)

Baca Juga :  Bupati Karawang Apresiasi Pendirian Pesantren Nurul Iman di Lapas Kelas II A Karawang

Artikel Terkait

Jangan ketinggalan berita ini!

Tinggalkan Balasan